Mudik lebaran sudah menjadi budaya di Indonesia setiap Hari raya Idul Fitri. Euforia yang khas dimana orang-orang akan mempersiapkan perjalanan ke kampung halaman dari kota tempat mereka mencari nafkah. ada yang melewati jalur darat, laut, bahkan udara.
Tapi bagi saya yang lahir dan besar dikota jakarta. sebagai pribumi suku asli orang jakarta (baca betawi). tak pernah sekalipun rasa merasakan suasanan mudik lebaran seperti yang orang-orang rasakan. bahkan bersuami orang jawa selama pernikahan kami bertahun-tahun tak pernah sekali saja berkesempatan ikut merasakan mudik lebaran.
terkadang suka bertanya-tanya seperti apa rasanya mudik lebaran itu. bermacet-macetan ria dalam melakukan perjalanan yang panjang. sensasi macet yang tidak seperti macet ibu kota. bahkan sebelum sistem perkerta-apian bagus seperti sekarang. bisa kita lihat bagaimana orang rela berdesak-desakkan dalam kereta. dulu pernah saya lihat disalahsatu stasiun dijakarta seorang ibu yang berdiri sambil menggendong anaknya dilorong gerbong kereta karena tidak kebagian duduk. tapi sekarang sudah tidak bisa kita lihat lagi karena sistem perkereta-apian indonesia yang semakin membaik.
banyak orang yang menikmati "penderitaan" itu. mereka rela menikmati. penderitaan berdesak-desakkan, bahkan kecopetan di terminal bis sudah menjadi bagian dari mudik lebaran yang harus dinikmati dikarenakan penuhnya orang, ada saja menjadi celah pihak yang melakukan tindak kejahatan. belum lagi penderitaan mencium aroma tak sedap ketika sedang berdesak-desakkan. aroma yang membuat kita merasa jatuh kelubang penderitaan yang sangat dalam dimana kita tidak bisa menghindari itu. tapi semua penderitaan itu yang kelak akan dibayar dengan manisnya berjumpa dengan sanak saudara tercinta sikampung halaman. semua penderitaan serta drama salam perjalanan mudik lebaran lenyap sudah dan menjadi suasana mengahru biru ketika bertemu keluarga terkasih yang lama tak jumpa.
saya ingin sekali merasakan euforia mudik lebaran. meski saya pun menikmati sekali mudik effect di Ibu kota ketika orang-orang mudik kekampung halamannya. it feels like in heaven. kenapa? karena jakarta sangat lengang sekali. pemandangan yang luar biasa menyejukkan mata. karena suasana macet seperti dineraka yang biasa kita temui sehari-hari itu untuk sementara tak kita lihat. namun meski begitu terkadang ada sisi rindu dengan orang-orang yang biasa mewarnai jakarta. dimana dijakarta penduduknya bukan cuma pribumi saja. sesaat menjadi baper moment merasa kehilangan orang-orang yang selama ini menghiasi ibu kota. tiba-tiba rindu dengan tetangga kita yang macam-macam suku itu karena merka mudik ke kampung halamannya.
bukan cuma itu, bahkan mudik effect yang tidak menyenangkan bagi pribumi selain merindukan orang-orang yang mewarnai jakarta. adalah harus rela gigit "gigit jari" ketika ketupat sayur, rendang, opor ayam, sambel hati ludes dimakan sanak saudara. karena tidak ada tukang makanan, mau lari ke masakan padang si Uni mudik ke padang, mau ari ke tukang bakso si Mas juga mudik ke jawa. bahkan menemukan tempe di warung sayur serasa menemukan harta karun, karena menjadi barang langka. yang oleh karena itu tahun depan saya berharap sekali dapat merasakan mudik lebaran supaya tidak gigit jari ketika tak ada yang jual makanan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar